Global Sports Berita Politik Reportase Fokus Info Rilis Pariwara Bisnis
Editor's

Tertibkan Pengguna Knalpot Bogar, Polsek Batui Razia Pelajar di Sekolah   |   Diduga 'Mebong' Campur Stres Mau Digugat Cerai, Pria di Bangkep Rusak Perabotan dan Dinding Rumah   |   Adu Kuat Honda CBR vs Mio Soul, Dua Pengendara Meninggal Ditempat   |  

Dukung Independensi jurnalisme yang tidak berpihak

Tuduhan Palsu Rentan Kriminalisasi Kerap Warnai Satu Dekade Perjuangan Petani Batui

Red : Saiful Yamin / Apriyanto
Minggu, 14 Feb 2021 | 08:38:43 WITA

CNA PAPER - Konflik agraria antara petani dan perusahaan perkebunan sawit di Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, kerap diwarnai dengan upaya mengkriminalkan pemilik lahan ke polisi. Salah satu masyarakat yang lahan kebunnya telah ditanami sawit secara sepihak oleh perusahaan, nyaris dipolisikan oleh salah seorang karyawan PT. Sawindo Cemerlang (SCEM) dengan tuduhan melakukan pencurian.

Berita Lainnya

Kasus terbaru ini menimpa Widiyastuti, Ibu rumah tangga 47 tahun, ia dituduh mencuri buah sawit di sebuah areal yang diklaim sebagai kebun inti milik Sawindo Cemerlang. Widi mengatakan, ia dilaporkan asisten kebun atas nama Acep Supritana di Polsek Batui dengan tuduhan memanen tandan sawit di areal inti pada, Sabtu 30 Januari 2021. Padahal hari itu, dirinya sama sekali tidak melakukan apa-apa atau sampai berada di lokasi seperti yang dituduhkan.

“Keesokannya (1/2) saya  dipanggil polisi untuk dimintai keterangan, gara-gara dilaporkan mencuri oleh Acep Supritana alias Asep yang bekerja di Sawindo,” tutur Widi yang beralamat di Kelurahan Batui itu.

Sekalipun itu merupakan tuduhan palsu, Widi tetap mengikuti proses hukum yang berlaku, ia bersama suami datang ke lokasi yang dianggap jadi lokasi perkara pencurian untuk dipertemukan dengan pelapor sekaligus konfrontir tuduhan pencurian tersebut.

“Saya kelokasi dipertemukan dengan pelapor oleh polisi. Dan pelapor hanya mengaku melihat saya memanen tanpa satu bukti apapun ke polisi, baik itu foto maupun video dilokasi tersebut,” keluhnya.

Ibu empat anak ini akhirnya menyadari, pelaporan atas dirinya hanya merupakan bagian dari upaya oknum perusahaan agar dapat mengkriminalkannya. Alasannya, Widiastuti adalah salah satu pentolan masyarakat yang sampai hari ini tidak menerima lahan kebun miliknya dijadikan perkebunan plasma oleh Sawindo.

“Perlu diketauhi pada tahun 2011,  PT. Sawindo secara sengaja telah menggusur tanaman yang ada di atas tanah kami dan dilakukan secara terang-terangan, padahal mereka tidak pernah permisi atau mendapatkan izin dari saya sebagai pemilik lahan. Bagaimana saya mau jadi mitra dengan korporasi yang tidak beradab seperti itu,” tandas Widi.

Sekalipun pelaporan pencurian tidak diproses di kepolisian karena tak cukup bukti. Namun, Widi mengaku akan terus berjuang melawan upaya oknum perusahaan yang telah menuduhnya sebagai pencuri.

“Tuduhan palsu itu harus dibayar mahal, karena biar bagimanapun keluarga besar saya sangat malu saya dituduh pencuri. Dan Sawindo juga harus tau jika oknum karyawannya telah membuat fitnah dengan tuduhan yang paling keji,” ucapnya geram.

“Setidaknya jika berniat melaporkan saya, silahkan saja tapi apabila saya mengambil suatu barang yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain dalam hal ini perusahaan atau memiliki barang benda tersebut berupa buah sawit untuk diri sendiri secara melawan hukum. Tapi kenyataannya saya tidak melakukan apapun,” sesalnya.

Sudah 10 tahun PT.Sawindo Cemerlang tidak pernah memiliki itikad baik untuk menyelesaikan persoalan atas kerugian yang dialaminya. Tanaman produktif berupa kakao, mente dan lainnya digusur dan digantikan sawit tanpa dipinta. Belum itu selesai, upaya mengkriminalkan dirinya kembali dilakukan oleh oknum diperusahaan yang sama.

“Selain meminta PT.Sawindo Cemerlang untuk segera mengeluarkan tanaman sawit yang ada di atas tanah kami. Saya juga meminta agar oknum yang telah membuat tuduhan palsu terhadap saya harus keluar ,” tuntut Widi, perempuan kelahiran Batui 1973 itu.

Beruntung kata dia, pihak Kepolisan Sektor Batui sangat professional menanggapi laporan yang masuk. Jika tidak, bisa saja ia terpenjara hanya karena tuduhan palsu. Tapi perlu dicatat, praktek upaya mengkriminalisasi petani telah ditunjukan oknum perusahaan, dan jika terus dibiarkan maka tidak menutup kemungkinan petani yang menuntut haknya akan berkahir di balik jeruji.

“Satu kata. Pembuat tuduhan palsu sebaiknya keluar dari kampung halaman kami, karena bisa membawa kemudharatan bagi kami petani,” tutup Widi.

Keprihatinan Lembaga (Adat) Batumondo’an dan Tokoh Masyarakat

Menanggapi kasus tuduhan palsu yang dialami Widiayastuti, Sekertaris Batumondoan Banggai, Sophyansa Yunan atau karib disapa Haji Opan mengaku sangat prihatin atas kejadian tersebut. Ia mengatakan tuduhan palsu yang bisa berujung pada kriminalisasi tersebut, sangat berbahaya jika dibiarkan.

“Hal itu harus disikapi, saya sebagai sekretaris adat Batomundo'an Banggai sangat tidak setuju dengan cara-cara busuk yang dilakukan oknum pembuat tuduhan palsu,” kata Haji Opan.

Mantan ASN dari lingkup Badan Kesbangpol Kabupaten Banggai itu juga menyatakan, akan memantau dan turut memberikan pendampingan bagi korban fitnah. “Intinya lebih baik mencegah, karena melapor orang dengan tuduhan palsu bisa sangat berbahaya dan sangat merugikan orang lain serta melanggar norma agama dan Hak Asasi Manusia,” kata Haji Opan.

Ia menambahkan, perangkat adat Batomundo'an Banggai akan turun kejalan secara besar-besaran jika sampai ada pihak perusahaan yang kembali melakukan tindakan-tindakan yang mengarah pada kriminalisasi kepada warga masyarakat.

“Ya perlu diingat, kami perangkat adat tidak akan tinggal diam dan akan ikut turun jika sampai terjadi praktek-praktek kriminalisasi dan tekanan terhadap masyarakat. Kami tidak butuh investasi yang buruk di tanah Banggai ini,” ucap Haji Opan mengingatkan.

Senada tokoh masyarakat Kecamatan Kintom Ali Suling juga menyayangkan pelaporan palsu yang sengaja dibuat oknum perusahaan. Dirinya pun bersimpati untuk turut menggubris upaya oknum yang mencoba mengkriminalkan petani Batui. Baginya selain memfitnah masyarakat setempat, hal itu juga bisa merusak tatanan sosial kemayarakatan.

“Sangat-sangat saya sayangkan. Jika sampai seorang perempuan dituduh menjadi mencuri padahal itu tidak pernah dilakukannya. Maka, saya yakin hal ini pula yang bakal merusak citra perusahaan. San kami tidak akan tinggal diam dengan model investasi yang merugikan rakyat,” ucap Ali singkat.



Tentang Kami | Redaksi | Pedoman Media Siber
Jurnalisme Positif | Info Iklan | Ketentuan Khusus | Karir



DOWNLOAD APLIKASI
 

Copyright © 2018 CNA Daily
Allright Reserved