Global Sports Berita Politik Reportase Fokus Info Rilis Pariwara Bisnis
Editor's

Bupati Morut Delis Hehi: Saya tidak pelupa   |   Lebih 1.000 Triliun Dana Pusat ke Papua, Alokasi Pendidikan Tak Sampai 5 Persen   |   Kebakaran di Luwuk Timur, Pemilik Rumah Tewas Terbakar   |  

Dukung Independensi jurnalisme yang tidak berpihak

Stop Panen Sawit Ditengah Sakitnya Koperasi Maleo Sejahtera

Red : Saiful Yamin / Amad Labino
Jumat, 5 Mar 2021 | 03:35:19 WITA

Paper CNA - Perusahaan perkebunan kelapa sawit Sawindo Cemerlang (Scem) diminta menghentikan aktivitas pengambilan buah sawit dari lahan kebun yang kini persoalkan 58 orang petani di Kecamatan Batui. Demikian pula petani, kedua bela pihak tidak dibolehkan memanen buah sawit guna menjaga terjadinya konflik di areal kebun.

Berita Lainnya

Penegasan ini merupakan salah satu butir yang disimpulkan dalam pertemuan rapat antara petani, pemitra plasma Sawindo yang di tengahi Asisten II Setkab Banggai, Alfian Djibran pada Kamis, 4 Maret 2021 diruang rapat Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan (TPHP).

"Jadi saya minta perusahaan (Scem) jangan dulu ambil buah dilokasi bermasalah, juga dengan masyarakat. Jadi sama-sama tidak boleh panen sawit," kata Alfian, dan disimak peserta rapat yang turut dihadiri Kapolsek Batui, IPTU Yoga dan Camat Batui Haryanto Galib.

Ini disampaikan Alfian untuk mengantisipasi pertikaian antara petani dengan para pekerja Scem, seperti yang baru terjadi pada Selasa (2/3). Dimana, salah satu pekerja nyaris menganiaya salah seorang petani karena saling klaim siapa yang berhak memanen buah sawit. Apakah perusahaan atau petani?.

Memang, konflik lahan antara petani dan perusahaan memang sudah lama terjadi, hingga 10 tahun terkahir tidak juga berujung baik. Untuk itu, Alfian bersama tim termasuk didalamnya dinas terkait, BPN Luwuk Banggai serta bagian hukum Setda Banggai akan turun lapangan menginvestigasi persolan ini.

"Tanggal 9 (Maret) kita tim akan turun kesana, kita akan periksa semuanya termasuk kondisi koperasi," ucap Alfian, menyahuti pernyataan pihak Dinas Koperasi yang menyebut Koperasi Plasma Maleo Sejahtera yang tak lagi sehat atau cacat.

Kesimpulan lainnya, yakni perlunya transparansi perusahaan dalam pengelolaan perkebunan, termasuk didalamnya penentuan harga per tandan buah segar dan nilai hitungan terhadap petani. Sehingga kata dia, tidak ada lagi yang dirugikan.

Hal ini juga sempat dicecar Kadis TPHP, Usman Suni kepada perwakilan pemitra. Tapi pemitra yang di wakili Yossi, tidak dapat menerangkan secara tuntas, dan cenderung berbelit-belit khususnya sistem pembayaran ke petani.

Koperasi Maleo Sejahtera Tak Sehat dan Cacat.

Sekalipun perjuangan petani untuk kembali mendapatkan lahannya dilalui cukup panjang. Namun, upaya penanganan polemik agraria antara petani mulai menunjukan titik terang. Itu setelah beberapa kali peserta rapat, baik dari Dinas Pekebunan dan Koperasi Kabupaten Banggai menyebut koperasi plasma yang semestinya menjadi punggung antara pemitra (perusahaan) dan petani pemilik lahan tidak berjalan dan cenderung hilang fungsi.

Dan Kondisi Koperasi yang tidak sehat dan tidak pula bermodal diakui ketua koperasi maleo sejahtera, Moch Noer Agama, saat rapat berlangsung.

"Kita bisa apa, kita tidak punya modal operasional," ungkap Noer terbuka. "Jadi semua dilakukan pihak perusahaan," tandasnya.

Padahal, jika melihat lampiran surat kerjasama antara petani dan perusahaan, dibagian kesepakatan selalu mencantumkan pengurus Koperasi Maleo Sejahtera sebagai pihak pertama.

Tapi dengan kondisi koperasi yang nadir seperti diungkap Moch Noer, tentu hal itu tidak bisa berjalan sebagaimana koperasi perkebunan yang ada ditempat lain. Ditambah lagi, koperasi Maleo Sejahtera belum pernah menyelenggarakan rapat anggota maupun rapat tahunan selama 6 tahun sejak diidirikan 2012 silam.

"Bagaimana mungkin petani bisa bermitra atau menyepakati surat perjanjian kerjasama dengan perusahaan, kalau koperasi sebagai tulang punggung kemitraan tidak sehat atau cacat," ungkap Widiastuti perwakilan warga kepada CNA Daily usai mengikuti rapat.

Bagi dia, penyelesaian antara mereka dan perusahaan bisa cepat selesai jika koperasi selaku perpanjangan kemitraan benar-benar ada dan berjalan sesuai azaz koperasi itu sendiri.

"Seharusnya mereka paham apa pentingnya koperasi dalam membangun kemitraan. Setidaknya koperasi paham azaz pokoknya, kekelurgaan dan gotong-royong. Tapi apa, yang ada kami petani cuma mendapat ancaman sedangkan koperasi sendiri sudah mati suri," tutupnya.



Tentang Kami | Redaksi | Pedoman Media Siber
Jurnalisme Positif | Info Iklan | Ketentuan Khusus | Karir



DOWNLOAD APLIKASI
 

Copyright © 2018 CNA Daily
Allright Reserved