Global Sports Berita Politik Reportase Fokus Info Rilis Pariwara Bisnis
Editor's

Pemdes Bohotokong Kembali Salurkan BLT Tahap II   |   Pasukan Terdasyat Bangkep Datangi Polsek Bulagi   |   JOB Diminta Perbaiki Jalur Pipa Migas   |  

Dukung Independensi jurnalisme yang tidak berpihak

Analisa Penyebab Kekalahan Winstar yang Tak Terduga

Red : Saiful Yamin / Internal Litbang
Sabtu, 20 Feb 2021 | 05:51:37 WITA

CNA Paper- Sekalipun, penetapan pasangan  terpilih Bupati dan Wakil Bupati Banggai telah ditetapkan KPU, namun masih ada pendukung yang sulit menerima kenyataan atau bisa dibilang gagal move on akibat dari kekalahan itu.

Berita Lainnya

Memang tidak banyak yang menyangka, pasangan petahana yang didukung partai penguasa (PDIP) bisa kalah dengan pautan suara 23 ribu lebih dari pendatang baru Amirudin Tamoreka-Furqanuddin Masulili.

Belajar dari kekalahan yang dialami petahana pasangan Herwin Yatim Mustar Labolo, semestinya menjadi referensi baru untuk belajar memahami strategi jitu dan perubahan-perubahan dalam menjalankan pola pemenangan. “Itu jika kita ingin menjadi seorang pemain atau konsultan mandiri”.

Perlu diketahui, ada beberapa faktor yang menentukan dalam pemilihan kepala daerah di Kabupaten Banggai. Sebenarnya, faktor itu tidak menguntungkan petahana Herwin Yatim-Mustar Labolo hingga potensi semula menjadi jejak kemenangan kemudian bias atau sudah tidak diperhitungkan lagi.

Internal Litbang Politik CNA Daily coba merangkumnya dalam analisa berikut.  

Harus diakui dari deret angka perolehan suara rata-rata kemenangan yang didapatkan Herwin Yatim 2011 masa Smile Win, maupun 2015 (Winstar) tidaklah berpaut jauh atau hanya sekitar 4000-an.

Tercatat, kala Ia semasih menjadi wakil Sofhian Mile (SmileWin) pasangan ini memperoleh suara 65.560, selanjutnya ketika Herwin kembali maju sebagai calon bupati berpasangan dengan Mustar Labolo sebagai wakilnya (Winstar), lagi penuh keberuntungan, ia meraup 69.315 suara di Pilkada 2015 tersebut.

Demikian halnya di Pilkada 2020 barusan, pasangan yang kompak ini berhasil mendapatkan suara yang tak jauh berbeda dari dua Pilkada yang dilewatinya, yakni 64.362 suara.

Litbang CNA menyebut angka raihan ini adalah angka kebiasaan bagi para jawara di Pilkada Banggai, itu setelah diperhitungkan dengan jumlah DPT dan para pemilih yang ke TPS. Tentunya, angka 64 ribu sudah cukup memenangkan pasangan petahana ini.

Tapi siapa sangka angka partisipasi naik drastis melebihi dari tahun-tahun sebelumnya, yang diprediksi mereka adalah pemilih militan pasangan Amirudin-Furqanuddin Masulili. Metode kampanye yang massif dan intens itulah yang menyebabkan angka kebiasaan menjadi tertinggal. Dimana, raihan suara 80-an ribu sebelumnya tidak pernah terjadi di Pilkada sebelumnya.

Terjawab, faktor pertama kekalahan Winstar jilid II adalah gagal menghitung variabel peluang menang kalah, ini karena terlampau percaya dengan ‘angka kebiasaan’ tanpa berpikir akan terjadi kenaikan angka partisipan. Secara umum, para konsultan menyebut itu migrasi suara, padahal yang ada adalah kesadaran politik para calon pemilih yang terpengaruh dari metode kampanye aktif yang dijalankan relawan dan tim pemenangan Amirudin-Furqan yang kemudian mampu menarik mereka.

Kedua, kegagalan bisa diakibatkan gagalnya komunikasi yang terbangun ditengah konstituen akar rumput. Yakni tidak terjadi pengelolaan opini yang tepat ditengah masyarakat yang mengandalkan garis keluarga, tetangga atau sahabat terdekat yang berada di sekitar tempat tinggal mereka.

Bagimanapun, memperkenalkan kandidat tanpa kedekatan seperti dimaksud diatas, maka tidak ada jaminan pemeliharaan basis hingga ke TPS nantinya. Itulah yang dimaksud pembiasan.

Terakhir, dalam satrategi pemenangan dalam pemilihan kepala daerah, tidak cukup mengandalkan data elektabilitas dan popularitas kandidat melalui survei ataua apapun bentuknya, karena politik pemilu seperti pilkada langsung telah banyak membuktikan hal itu.

Tidak ada jaminan bagi calon kepala daerah yang mengandalkan elektabilitas dan popularitas untuk memenangi pemilu dalam tingkatan apapun.

Selama ini alat ukur survei menjadi dasar pertimbangan bagi calon, terutama calon kepala daerah bahkan calon presiden sekalipun. Perlu diketauhi alat ukur survei mengabaikan beberapa aspek penting yang menjadi variabel pendukung keberhasilan dalam pesta demokrasi.

Dan hal ini tidak terjadi pada tim pemenangan Amirudin-Furqan, tampak tim dari pasangan ini lebih mengandalkan otentikasi door to door atau menghitung angka simpatisan dengan akurasi tinggi, dan lebih memilih konstituen yang sebelumnya cenderung Golput kemudian dipengaruhi untuk berpartisipasi dalam memilih pemimpin daerah. Sehingga tidak menghabiskan waktu mempengaruhi pemilih yang sudah memiliki dasar pilihan itu sendiri.

Kini Perhelatan pemilukada yang diikuti tiga pasang calon telah selesai, saatnya masyarakat Banggai kembali membangun silatuhrahmi untuk Banggai yang lebih hebat dan bermartabat.



Tentang Kami | Redaksi | Pedoman Media Siber
Jurnalisme Positif | Info Iklan | Ketentuan Khusus | Karir



DOWNLOAD APLIKASI
 

Copyright © 2018 CNA Daily
Allright Reserved