Global Sports Berita Politik Reportase Fokus Info Rilis Pariwara Bisnis
Editor's

Tertibkan Pengguna Knalpot Bogar, Polsek Batui Razia Pelajar di Sekolah   |   Diduga 'Mebong' Campur Stres Mau Digugat Cerai, Pria di Bangkep Rusak Perabotan dan Dinding Rumah   |   Adu Kuat Honda CBR vs Mio Soul, Dua Pengendara Meninggal Ditempat   |  

Dukung Independensi jurnalisme yang tidak berpihak

5 Negara Bersiap Pilih Berdamai dengan Covid-19

Red : Saiful Yamin
Sabtu, 10 Jul 2021 | 12:32:56 WITA

Akibat Pandemi Covid-19 yang telah menyerang dunia lebih dari setahun lamanya, akhirnya memberi dampak pada lumpuhnya aktivitas manusia yang kemudian menyebabkan resesi massal ekonomi dunia. Saat ini, meski kampanye vaksinasi digalakkan, jumlah kasus belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Yang terjadi, bahkan, beberapa wilayah dilaporkan mengalami lonjakkan kasus yang cukup tinggi.

Berita Lainnya

Hal ini membuat beberapa negara mengambil inisiatif untuk mencoba hidup berdampingan dengan corona. Langkah ini diambil agar kegiatan masyarakat dapat kembali pulih seperti biasa seperti masa pra-pandemi. Berikut sejumlah negara yang kini mulai mengambil langkah untuk bersiap 'berdamai' dengan Covid.

Berikut rangkuman CNBC Indonesia yang kembali dirilis CNA Daily:

1. Singapura

Pemerintah Singapura berencana mempersiapkan penduduknya agar dapat menghadapi Covid-19 sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Hal ini dilakukan supaya kegiatan normal masyarakat dapat berjalan tanpa adanya karantina dan penguncian lanjutan.

Untuk mengimplementasikan hal itu, pemerintah Negeri Singa akan merancang sebuah roadmap berisi panduan mengenai cara-cara hidup dengan kenormalan baru. Dalam roadmap itu beberapa Menteri Singapura menyebut bahwaCovid-19 akan ditangani seperti penyakit endemik lainnya seperti flu biasa dan penyakit tangan, kaki dan mulut. 

"Sudah 18 bulan sejak pandemi dimulai dan orang-orang kami lelah berperang. Semua bertanya: Kapan dan bagaimana pandemi akan berakhir?" Tulis sebuah rilis dariMenteri Perdagangan dan Industri Gan Kim Yong, Menteri Keuangan Lawrence Wong dan Menteri Kesehatan Ong Ye Kung.

"Kabar buruknya adalah Covid-19 mungkin tidak akan pernah hilang. Kabar baiknya adalah mungkin untuk hidup normal dengannya di tengah-tengah kita."

Nantinya masyarakat yang terkena Covid-19 akan difokuskan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah sehingga tidak memberatkan beban fasilitas kesehatan.

Selain itu, alat tes Covid-19 dapat diperoleh secara mudah di apotek sehingga mereka dapat memantau kondisi mereka sendiri. Lebih lanjut, disebutkan bahwa kedepan laporan harian tentang jumlah infeksi juga akan beralih ke fokus pada hasil, seperti berapa banyak pasien yang jatuh sakit parah dan akhirnya membutuhkan perawatan intensif.

Di sisi lain, Pemerintah Singapuramenekankan bahwa aturan ini akan dikembangkan seiring dengan laju vaksinasi yang sedang digalakkan. Mengutip sumber data media Straits Times, sebanyak 5.029.006 dosis telah diberikan di Singapuraper tanggal 21 Juni lalu.

Dari jumlah itu, sebanyak 2,9 juta warga telah mendapatkan setidaknya satu dosis vaksin sementara ada 2 juta lebih warga yang telah divaksin penuh dengan dua dosis.

Angka 2 juta ini merupakan 36% dari jumlah total penerima vaksin. Pemerintah Singapura sendiri menargetkan setidaknya sepertiga masyarakat atau 67% populasi telah menerima vaksin secara penuh pada Hari Kemerdekaan 9 Agustus mendatang.

2. Inggris

Inggris merupakan negara berikutnya yang mulai berpikir untuk hidup berdampingan dengan Covid-19. Langkah ini diambil meski Negeri Ratu Elizabeth itu masih melaporkan jumlah penambahan kasus infeksi yang cukup signifikan. Perdana Menteri (PM) Boris Johnson menyatakan bahwa publik Inggris harus "mulai belajar hidup dengan virus ini".

Masyarakat juga diminta melakukan tindakkan pencegahan "ketika menjalani hidup mereka".

"Saat kita mulai belajar hidup berdampingan dengan virus ini, kita harus tetap berhati-hati dalam menangani risiko Covid-19 dan melatih diri untuk mengambil keputusan yang menyangkut kehidupan kita," kata PM yang juga mantan Walikota London itu seperti dilansir BBC, Rabu (7/7/2021).

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa pihaknya mungkin akan mencabut beberapa aturan-aturan protokol Covid. Seperti memakai masker dan menjaga jarak pada 19 Juli mendatang. Namun langkah ini ditentang oleh para ahli kesehatan.

Serikat tenaga kesehatan menyebut bahwa langkah itu merupakan langkah yang tidak masuk akal, apalagi saat ini Inggris sedang berkutat dengan varian Delta dan kasus yang masih menanjak naik.

"Masker wajah terbukti mengurangi penyebaran infeksi ini namun kami tidak mengerti mengapa (pemerintah) secara sadar ingin orang terinfeksi," ujar Ketua Dewan Perhimpunan Kesehatan Inggris, Chaand Nagpaul.

Inggris merupakan salah satu negara di Eropa dengan kasus corona dan kematian tertinggi. Per Selasa (6/7/2021) negara pulau itu mencatatkan 4,93 kasus Covid dan 128 ribu lebih kematian.

3. Amerika Serikat (AS)

AS merupakan negara yang paling parah terdampak Covid-19. Hingga saat ini telah terjadi 33,7 juta infeksi diiringi 605 ribu kematian sejak virus ini masuk ke Negeri Paman Sam. Meski begitu, angka vaksinasi di negara itu sangat cepat.

Saat ini Negara berpenduduk 328 juta jiwa itu telah memberikan setidaknya satu dosis vaksin pada 54,7% penduduk.

Sebanyak 47,1% sudah mendapatkan vaksin dosis penuh. Hal ini warga AS sepertinya mulai bersiap kembali dengan kehidupan normal, ditandai dengan mulai ramainya penerbangan dan hotel-hotel yang sebelumnya 'kesepian' saat pandemi masih parah melanda Pada perayaan hari kemerdekaan 4 Juli, Presiden AS Joe Biden menyebut bahwa AS sudah mulai menang melawan Covid-19.

"Dua ratus empat puluh lima tahun yang lalu, kami mendeklarasikan kemerdekaan kami dari raja yang jauh. Hari ini, kami lebih dekat dari sebelumnya untuk mendeklarasikan kemerdekaan kami dari virus mematikan," katanya kepada kerumunan anggota militer dan pekerja penting yang diundang sebagaimana dikutip WION News.

"Kami telah menang melawan virus ini," tambahnya.

Sementara itu kenormalan lainnya juga nampak pada hari kemerdekaan 4 Juli. Banyak dan warga merayakan hari merdeka itu tanpa menggunakan masker saat pesta kembang api berlangsung di beberapa kota besar, seperti Kota New York.

4. Australia

Australia saat ini juga sedang bersiap dalam mempersiapkan untuk hidup bersama corona. Dalam mencapai hal itu, PM Australia, Scott Morrison, menyatakan pemerintahannya akan terlebih dulu berusaha melakukan vaksinasi sesuai target untuk menekan penyebaran Covid-19.

Nantinya, Morrison menyebut bahwa Covid-19 nantinya akan diperlakukan seperti kasus influenza biasa. Masyarakat, tegasnya, tidak perlu khawatir lagi.

"Cara berpikir kita dalam menangani Covid-19 harus mulai diubah dari saat sebelum vaksinasi dan sesudah vaksinasi," kata Morrison dalam jumpa pers di Sydney, seperti dilansir Reuters.

5. China

Meski menjadi negara pertama yang melaporkan kemunculan virus ini, China mampu lepas dan saat ini mulai hidup bebas dari Covid-19.

Hal ini karena langkah cepat dari pemerintah yang mengunci kota Wuhan yang merupakan episentrum pertama virus itu.

Saat ini sebagian besar wilayah China telah terbuka lagi bagi pendatang. Di Wuhan, pemerintah lokal telah mengizinkan warga berkumpul tanpa masker. Akhirnya beberapa kegiatan yang mengumpulkan kerumuman pun digelar, seperti konser musik dan wisuda.

Sementara itu, untuk bepergian, pemerintah menyiapkan skema penyertaan sertifikat tanda sehat dan paspor vaksinasi yang dapat diunduh di ponsel. Meski begitu, pemerintahan Presiden Xi Jinping juga masih melaksanakan lockdown parsial di beberapa titik.

Terbaru, China lockdown kota di perbatasan Selatan Ruili untuk mencegah penularan Covid yang dibawa oleh pengungsi asal Myanmar.



Tentang Kami | Redaksi | Pedoman Media Siber
Jurnalisme Positif | Info Iklan | Ketentuan Khusus | Karir



DOWNLOAD APLIKASI
 

Copyright © 2018 CNA Daily
Allright Reserved